Swara Gapura
Dalam rangka penghematan energy akibat dari krisis enerigi global yang dipicu perang Iran versus Amerika Serikat dan Israel, Pemerintah berencana akan menerapkan kebijakan pembelajaran daring. hal itu diungkapkan Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno dalam upaya penghematan energy yaitu penyesuaian metode pembelajarn daring dan luring sesuai karakteristik mata pelajaran
Menurut Ketua Umum PP IKA UPI Amich Alhumami, kebijakan pemerintah tersebut akan berakibat pada menurunnya kualitas hasil belajar siswa untuk membangun generasi cemerlang dan bekualitas pasalnya metode pembelajaran daring secara factual tidak sepenuhnya efektif dapat mendorong para siswa giat belajar dan mencena dengan baik
“ Efisiensi anggaran seyogyanya tidak mengorbankan dunia pedidikan, karena sekolah bukan sekedar tempat belajar dan media transper materi pelajaran tetapi sebagai ruang interaksi sosial untuk penanaman karakter, disiplin dan etika yang mustahil di lakukan melalui layar kaca” terangnya. Senin (23/3)
Ada tiga dampak krusial jika wacana ini direalisasikan lanjut Amich, pertama ancaman kesehatan mental dan adiksi digital. Kurangnya interaskis sosial dapat memicu peningkatkan stress, kesepian dan menjauhkan dari buku dan kreativitas nyata. Ke dua : ketimpangan akses teknologi dan digital. Hal ini akan berakibat memperlebar disparitas layanan pendidikan antara wilayaj perkotaan, pedesaan, pelosok dan daerah 3T yang belum tersedia infrastruktur teknologi digital yang memadai.
Dan yang ketiga meluruskan logika efisiensi. Logika penghematan subsidi energy (BBM) tidak tepat bila harus juga menimpa dunia pendidikan. Penutupan sekolah yang kemudian digantikan dengan pembelajaran daring pada masa pandemi covid 19 berkontrobusi langsung pada learning loss yang sangat signi fikan (hasil PISA 2022 menurun tajam)
“ Bagi siswa pembelajaran online akan menciptakan digital fatigue, situasi psikologis, kelelahan mental dan fisik akut akibat penggunaan perangkat teknologi digital dalam waktu sangat lama yang berdampak pada menurunkannya kualitas hasil belajar” ujar Amich
“ Berbagai studi seperti Hanushek & Woessman tahun 2022 menunjukan setiap bulan terjadi kehilangan pembelajaran, beresiko menurunkan pendapatan individu di masa depan 3-5 persen. Dalam jangka panang learning loss justru membawa dampat kerugian produktivitas nasional yang jauh lebih besar daripada nilai subsidi BBM “ tambahnya
Pada saat yang sama Amich juga mendesak pemerintah untuk tetap menjaga” nyawa” pendidikan di sekolah dan tidak mengorbankan sektor pendidikan setiap kali terjadi krisis energy. Sebagai solusi konstruktif. IKA UPI mengusulkan “ Gerakan Sekolah Mandiri Energi atau Pedagogi Hijau”
“ Jika bertjuan hemat BBM, jangan mengganti sekolah fisik dengan pembelajaran daring. dorong siswa dan pengajar bersepeda atau jalan kaki yang jaraknya memungkinkan” ujarnya
“ Ini solusi paling logis dan rasional : hemat energy, menyehatkan dan membangun karakter mandiri “ pungkas Amich
