Kejar Nol Persen Stunting, Mendukbangga Wihaji Ajak TPK Indramayu Kawal Distribusi MBG

Swara Gapura

Karang Ampel Indramayu- Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Wihaji menyambangi Lebih dari 1.000 Tim Pendamping Keluarga (TPK) se-Kabupaten Indramayu, Jabar, dalam acara Temu Kader TPK di Gedung Dakwah, Kecamatan Karangampel, Kabupaten Indramayu, Kamis (17/9).

Dalam kesempatan itu, Wihaji menegaskan tugas baru bagi TPK turut mendistribusikan Makan Bergizi Gratis (MBG) khusus kelompok 3B, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

Kepada para kader, Wihaji menyampaikan bahwa penugasan tersebut merupakan perintah langsung Presiden Prabowo Subianto agar jajaran kementerian tidak hanya berkutat pada rapat dan seminar, melainkan turun langsung menuntaskan persoalan di lapangan.

“Distribusi MBG bagi kelompok 3B di Indramayu sudah berjalan pada sebagian besar titik penyaluran. Sisanya akan segera ditindaklanjuti bersama Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setempat” terangnya

Wihaji menuturkan, prevalensi stunting di Kabupaten Indramayu tercatat 9,8 persen, jauh di bawah angka nasional yang mencapai 19,8 persen. Capaian itu bukan alasan untuk berhenti bekerja, mengingat pernikahan usia dini masih menjadi salah satu faktor risiko stunting yang perlu terus ditangani.

“Kalau di Indramayu cuma 9,8 persen. Berarti kalau ada 10 balita, stuntingnya cuma satu,” ujarnya,

Menurut Wihaji  ada enam kelompok yang menjadi sasaran pendampingan TPK sepanjang siklus kehidupan keluarga, yakni calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, anak di bawah dua tahun (baduta), balita, remaja, hingga lanjut usia (lansia).

“Agar usia pernikahan ideal yakni minimal 21 tahun untuk perempuan dan 25 tahun untuk laki laki calon pengantin harus ada pendampingan karena pernikahan dini salah satu penyebab stunting” ujar Wihaji

Adapun pendampingan terhadap baduta disebutnya sebagai periode paling menentukan, karena masuk dalam rentang 1.000 Hari Pertama Kehidupan. Menurut Wihaji, peluang pemulihan anak yang telanjur mengalami stunting setelah usia dua tahun jauh lebih kecil.

“Kalau sudah dua tahun tidak stunting, ke sananya tidak akan stunting. Tetapi kalau di usia dua tahun kena stunting, yang bisa disembuhkan cuma 20 persen,” katanya.

Dalam keterangan pers seusai acara, Wihaji menjelaskan bahwa kunjungannya ke Indramayu merupakan bagian dari kunjungan kerja untuk memastikan pelaksanaan Peraturan Presiden yang menugaskan TPK mendistribusikan MBG bagi kelompok 3B berjalan optimal.

“Kita pastikan bahwa tugas baru ini bisa dikerjakan oleh para TPK, maka kita cek langsung,” katanya.

“Sekitar 80 hingga 90 persen, TPK Indramayu telah menjalankan tugas distribusi  dan menerima insentif sebesar Rp1.000 per porsi  dicairkan setiap sepuluh hari sekali sesuai skema program” tambah Wihaji

Wihaji menegaskan, keterlibatan TPK dalam distribusi MBG bukan satu-satunya solusi menuntaskan stunting, melainkan salah satu ikhtiar bersama yang perlu disertai intervensi lain, seperti penyediaan rumah layak huni, akses air bersih, edukasi, dan sanitasi.

“Apakah langsung selesai stunting? Enggak. Karena tidak hanya asupan gizi yang dibutuhkan, butuh rumah layak, butuh air bersih, butuh edukasi, juga butuh sanitasi,” pungkasnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!