Swara Gapura
Retribusi parkir merupakan salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang sangat potensial, terlebih jika pelaksanaannya dilakukan sesuai dengan aturan yang berlaku. Hal ini diungkapkan oleh Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Ciamis, H. Awan. Sabtu (24/5/2025).
“Retribusi parkir sangat berpotensi besar dalam menunjang PAD, apalagi jika pengelolaannya dilakukan secara tertib dan sesuai ketentuan. Banyak titik lokasi parkir yang perlu ditingkatkan pengawasannya,” ujarnya.
H. Awan menambahkan bahwa Komisi B telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah lokasi di wilayah Kabupaten Ciamis yang memiliki potensi besar dalam menyumbang PAD melalui retribusi parkir, terutama di kawasan pasar pada tiap kecamatan.
Salah satu titik yang menjadi sorotan DPRD adalah pengelolaan parkir di RSUD Ciamis. Awan mempertanyakan alasan pengelolaan area parkir di depan RSUD – yang merupakan aset Pemerintah Daerah dan dibangun melalui dana APBD – justru dikelola oleh pihak ketiga.
“Pengelola parkir di RSUD sudah tiga kali kami panggil, tapi tak pernah hadir. Yang datang hanya perwakilan dari pihak RSUD, padahal kami ingin berdiskusi langsung dengan pengelola parkir. Karena itu, kami berinisiatif mendatangi kediaman pengelola yang berada di Bekasi,” ungkapnya.
Menurut Awan, memang benar bahwa area parkir timur RSUD dikelola pihak ketiga dan hal itu diperbolehkan karena mereka yang membangun fasilitas tersebut. Namun, untuk area depan atau area IGD, pembangunannya dibiayai oleh APBD sehingga seharusnya menjadi tanggung jawab Dinas Perhubungan Kabupaten Ciamis.
“Potensi PAD dari lokasi tersebut sangat besar, namun justru terabaikan, bahkan bisa dikatakan terlupakan,” tegasnya.
Ia juga menyebutkan bahwa berdasarkan Perda dan Perbup yang berlaku, hanya area timur saja yang disepakati dikelola pihak ketiga. Jika memang terjadi perubahan, menurutnya, Komisi B DPRD tidak pernah menerima atau mengetahui adanya addendum perjanjian kontrak, termasuk penyesuaian tarif parkir.
“Kami berharap ada penyesuaian tarif, terutama bagi keluarga pasien yang menginap atau sering bolak-balik RSUD saat menunggu pasien. Hal ini perlu perhatian khusus,” pungkasnya. (SG.W-028/mon)
