Swara Gapura
Bandung – Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Jabar menggelar kegiatan “ Bincang Keluarga Berkualitas” bersama tenaga lini lapangan secara daring. Kegiatan yang bertemakan “ Kontrasepsi: Informasi Tepat, Pilihan Bijak Keluarga Sehat” tersebut digelar untuk memperingati Hari Kontrasepsi Sedunia setiap 26 September. Rabu (23/9)
Kepala DP3AKB Jabar Siska Gerfianti menyampaikan, Jabar merupakan provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia, sekitar 50,7 juta jiwa. Saat ini, angka kelahiran total atau total fertility rate (TFR) Jabar berada di level 2,05 dan ditargetkan turun hingga 2,03, tetapi tidak lebih rendah dari angka itu.
“TFR menjadi salah satu penentu laju pertumbuhan penduduk. Dari tiga komponen pembentuknya, yakni kelahiran, migrasi, dan kematian, hanya kelahiran yang dapat diatur, salah satunya melalui penggunaan kontrasepsi.” terangnya
Berdasarkan capaian kinerja Motivator Ketahanan Keluarga (Motekar) dan Tenaga Lini Terdepan KB (Teladan KB) hingga Agustus 2026, sebanyak 31.418 keluarga penerima manfaat (KPM) telah mendapat edukasi. Dari jumlah itu, 24.913 KPM tergolong pasangan usia subur (PUS), dengan 82,5 persen atau sekitar 20.552 KPM di antaranya merupakan akseptor KB aktif.
“Artinya, masih terdapat 4.361 KPM pasangan usia subur belum ber-KB. untuk itu tenaga lini lapangan harus menyisir kembali keluarga tersebut sesuai agar penerima bantuan sosial, termasuk penerima program elektrifikasi, tetap didorong mengikuti program KB” ujarnya
Ia mengingatkan, jika kualitas sumber daya manusia Jabar tidak dipersiapkan, bonus demografi justru dapat berubah menjadi beban. Siska juga mengaku masih menemukankeluarga yang memiliki anak lebih dari dua ketika berkeliling ke posyandu dan kampung keluarga berkualitas
“Dari seluruh akseptor KB di kalangan KPM, baru 32,91 persen atau sekitar 6.765 akseptor menggunakan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP), seperti implan dan alat kontrasepsi dalam rahim. Sisanya, sekitar 67,08 persen, memakai metode non-MKJP, seperti suntik, pil, dan kondom” ujarnya
“Penggunaan metode non MKJP lebih rawan gagal karena itu tenaga lini lapangan harus mengedukasi keluarga agar beralih ke MKJP yang dinilai lebih aman dan tidak mengharuskan warga bolak-balik ke puskesmas setiap bulan atau setiap tiga bulan” tambah Siska
Ia juga meminta perhatian khusus daerah dengan angka kematian ibu dan bayi masih tinggi, seperti Kabupaten Garut, Kabupaten Bogor, dan Kabupaten Bandung agar menekankan, jarak kelahiran terlalu rapat dan jumlah anak yang terlalu banyak juga berisiko melahirkan anak stunting.
“ Untuk menekan angka kematian ibu dan bayi tenaga lini harus berkolaborasi dengan penyuluh KB, tim pendamping keluarga da kader PKK” tegas Siska
Sementara itu, Kabid Peningkatan Kualitas Keluarga DP3AKB Jabar Iin Indasari mengatakan kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan pengetahunan dan kemampuan Teladan KB dan Motekar memberikan KIE guna membantu keluarga menentukan pilihan kontrasepsi yang tepat dan aman sesuai kebutuhan
“ Kegiatan yang dihadiri 572 tenaga Motekar dan Teladan KB se- Jabar diharapkan menjadi ruang berbagi pengalaman dan praktik baik antar pemangku kepentingan dalam mewujudkan keluarga berkualitas di Jabar” pungkasnya
