Swara Gapura
Panjalu Ciamis — Upacara Adat Nyangku dan Festival Budaya Panjalu 2026 kembali menjadi momentum penting bagi masyarakat Panjalu untuk menjaga warisan budaya leluhur sekaligus memperkuat nilai keislaman dan perekonomian masyarakat l, upacara adat nyangku di laksanakan di area pasanggrahan desa panjalu kecamatan panjalu kabupaten Ciamis,Senin (7/9)
Dengan mengusung tema “Dari Nyangku ke Panjalu Emas 2030: Merawat Warisan Karuhun, Meneguhkan Nilai Keislaman, dan Membangun Ekonomi Kerakyatan”, kegiatan tersebut tidak hanya dimaknai sebagai agenda adat tahunan, tetapi juga sebagai upaya menghubungkan nilai sejarah dengan kebutuhan masyarakat di masa kini dan cita-cita pembangunan di masa depan.
Dr Heri Solehudin atmawidjaja yang merupakan keturunan ke XVII kerajaan Galuh Panjalu mengungkapkan bahwa Nyangku sendiri memiliki kedudukan penting dalam kehidupan budaya masyarakat Panjalu.
Tradisi ini berkaitan erat dengan sejarah, perjalanan keagamaan, serta penghormatan terhadap warisan leluhur. Karena itu, pelaksanaan Nyangku diharapkan tidak berhenti pada prosesi adat, tetapi mampu menjadi sarana untuk memahami dan menerapkan nilai-nilai kebaikan yang diwariskan para karuhun.
Semangat tersebut tercermin dalam pesan leluhur Panjalu, “Mangan Karana Halal, Pake Karana Suci, Ucap Lampah Sabenere.” Pesan ini mengandung ajaran agar masyarakat senantiasa mencari rezeki yang halal, menjaga kesucian dan kehormatan diri, serta menyelaraskan ucapan dengan tindakan yang benar.
Selain pelestarian budaya, Nyangku 2026 juga bisa memperkuat potensi pariwisata dan ekonomi kerakyatan. Panjalu memiliki berbagai potensi, mulai dari Situ Lengkong, Nusa Gede, Bumi Alit, seni budaya, tradisi, kuliner hingga produk UMKM yang dapat dikembangkan menjadi bagian dari ekosistem pariwisata.
Melalui Festival Budaya Panjalu, pelaku UMKM diharapkan semakin mendapatkan ruang untuk memperkenalkan dan memasarkan produk lokal. Kuliner, kerajinan, produk kreatif, serta berbagai potensi masyarakat dapat dikembangkan agar memiliki daya saing dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk melalui platform digital.
Ke depan, wisata Panjalu diharapkan tidak hanya ramai ketika pelaksanaan Nyangku, tetapi dapat berkembang menjadi destinasi yang dikunjungi sepanjang tahun. Wisata budaya dan ziarah dapat dipadukan dengan wisata alam, ekonomi kreatif, kuliner, serta aktivitas masyarakat sehingga memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan warga.
Semangat tersebut menjadi bagian dari cita-cita Panjalu Emas 2030, yaitu membangun Panjalu yang kuat dalam budaya, kokoh dalam nilai keislaman, maju dalam pariwisata, berkembang dalam ekonomi kreatif, serta memberikan ruang yang lebih besar bagi generasi muda dan UMKM untuk berkembang.
Nyangku 2026 pun diharapkan menjadi momentum perubahan, dari sekadar pelestarian menuju pengembangan, dari seremoni menuju gerakan kebudayaan, serta dari potensi lokal menuju kekuatan ekonomi masyarakat.
Dengan demikian, warisan leluhur tidak hanya dikenang dan dibanggakan, tetapi terus dihidupkan oleh generasi sekarang untuk menjadi bekal dalam membangun masa depan Panjalu yang lebih maju, mandiri, dan sejahtera.
Panjalu berbudaya, Panjalu beragama, Panjalu berdaya, dan Panjalu sejahtera menuju Panjalu Emas 2030. (SG.W.028/mon)
