Swara Gapura
Pasar global waste-to-energy (WtE) atau pembangkit listrik dari sampah diperkirakan akan mengalami pertumbuhan signifikan hingga tahun 2035, seiring meningkatnya kebutuhan energi dan tekanan global untuk mengurangi sampah di tempat pembuangan akhir.
Berdasarkan laporan terbaru Research And Markets.com yang dirilis melalui Business Wire, nilai pasar WtE dunia diproyeksikan naik dari sekitar US$38,8 miliar menjadi US$86,8 miliar pada 2035, dengan tingkat pertumbuhan tahunan rata-rata mencapai 7,6 persen.
Teknologi insinerasi atau pembakaran sampah masih menjadi metode yang paling dominan karena efektif mengurangi volume sampah hingga 90 persen sekaligus menghasilkan listrik dan panas. Namun, laporan tersebut mencatat bahwa teknologi termokimia seperti gasifikasi dan pirolisis diprediksi tumbuh lebih cepat karena dianggap lebih efisien dan ramah lingkungan.
Pertumbuhan pasar WtE didorong oleh beberapa faktor utama, antara lain peningkatan populasi, urbanisasi, kebutuhan energi terbarukan, serta kebijakan pemerintah di berbagai negara yang membatasi penggunaan landfill dan menekan emisi gas rumah kaca.
Dari sisi wilayah, Asia menjadi pasar terbesar, dipimpin oleh negara-negara seperti China dan Jepang, yang telah lama mengembangkan sistem pengolahan sampah menjadi energi sebagai solusi keterbatasan lahan dan tingginya produksi sampah kota.
Listrik menjadi produk utama dari fasilitas WtE, meskipun pemanfaatan panas dan uap untuk kebutuhan industri juga menunjukkan tren peningkatan. Laporan ini menilai WtE akan semakin berperan penting sebagai solusi ganda, yakni pengelolaan sampah sekaligus penyediaan energi alternatif di masa depan.
Jikalau hal diatas diterapkan diseluruh wilayah Indonesia khususnya Kota Tasikmalaya, mungkin suatu saat Indonesia khususnya Kota Tasikmalaya akan kekurangan sampah.Tentunya hal ini harus diikuti oleh kasadaran warga dalam memilah dan memilih sampah hingga mimpi untuk Kota Tasik resik tanpa sampah akan tercapai walau butuh waktu. (SG.W-007)
