Swara Gapura
Hari ini, alam seakan sedang berbicara kepada manusia. Hujan datang tak menentu, panas terasa semakin menyengat, sungai tak lagi jernih, dan hutan kehilangan keteduhannya. Semua itu menjadi tanda bahwa alam sedang tidak sehat, dan manusia adalah bagian yang tak terpisahkan dari kondisi tersebut.
Sejatinya, hubungan alam dan manusia adalah hubungan saling menguntungkan. Alam menyediakan udara untuk bernapas, air untuk kehidupan, tanah untuk bercocok tanam, dan energi untuk menopang peradaban. Sebaliknya, manusia diberi amanah untuk menjaga, merawat, dan memanfaatkan alam dengan bijaksana. Ketika keseimbangan ini terjaga, kehidupan berjalan harmonis.
Namun hari ini, keseimbangan itu mulai goyah. Keserakahan, eksploitasi berlebihan, dan sikap abai terhadap
lingkungan membuat alam kehilangan daya pulihnya. Pohon ditebang tanpa perhitungan, sampah dibuang sembarangan, sungai dijadikan tempat pembuangan, dan tanah dipaksa terus memberi tanpa kesempatan untuk bernapas. Alam pun membalas bukan dengan kemarahan, tetapi dengan peringatan: banjir, longsor, kekeringan, dan krisis iklim.
Alam yang tidak sehat sejatinya adalah cermin dari perilaku manusia. Ketika manusia lupa bahwa dirinya hanya bagian kecil dari ekosistem besar, saat itulah kerusakan mulai terjadi. Padahal, menjaga alam bukan sekadar menyelamatkan lingkungan, melainkan menyelamatkan masa depan manusia itu sendiri.
Hari ini menjadi momentum untuk kembali belajar dari alam : mengambil secukupnya, merawat dengan sepenuh hati, dan bertindak dengan tanggung jawab. Menanam pohon, mengurangi sampah, menjaga air, serta hidup lebih selaras dengan lingkungan adalah langkah kecil yang bermakna besar.
Jika manusia mampu kembali menjalin hubungan yang adil dan saling menguntungkan dengan alam, maka alam pun akan kembali ramah. Karena hanya dengan alam yang sehat, manusia dapat hidup dengan layak, bermartabat, dan berkelanjutan. (SG.W-025/Awong)
