Swara Gapura
Kegiatan pesantren Ramadan di SMP Negeri 2 Panumbangan, Kecamatan Panumbangan, Kabupaten Ciamis, terus berlangsung sebagai tradisi keagamaan yang dipertahankan pihak sekolah meski tidak lagi terdapat instruksi khusus
dari tingkat provinsi.
Program pembinaan keagamaan tersebut dilaksanakan secara bertahap berdasarkan jenjang kelas. Pada hari ini, kegiatan memasuki tahap penutupan untuk tingkat terakhir, diawali dengan pembiasaan salat Duha, pembacaan Surah Yasin, dan tahlil. Selain itu, kegiatan juga menghadirkan pemateri eksternal yang berkolaborasi dengan MUI Kecamatan Panumbangan.
Kepala sekolah, Imang Ruhiyat, S.Ag., M.Pd.I., menjelaskan bahwa pelaksanaan pesantren Ramadan di sekolahnya mengacu pada edaran Bupati yang mendorong sekolah untuk menitipkan siswa ke pesantren atau menyelenggarakan kegiatan serupa di lingkungan sekolah.
“Di SMP Negeri 2 Panumbangan, kami memilih menyelenggarakan kegiatan pesantren di sekolah. Pelaksanaannya dibagi per tingkat, pekan pertama untuk kelas 9, pekan kedua kelas 8, dan hari ini merupakan tahap terakhir bagi kelas 7 sebelum memasuki masa libur tanggal 14,” jelasnya.
Menurutnya, kegiatan pesantren Ramadan telah menjadi tradisi sejak masa kepemimpinan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil melalui program pembiasaan keagamaan yang dikenal luas di kalangan sekolah. Meski kini tidak lagi menjadi instruksi khusus dari pemerintah provinsi, pihak sekolah tetap berkomitmen mempertahankan program tersebut sebagai bagian dari pembentukan karakter religius peserta didik.
Hal yang menjadi perhatian khusus dalam kegiatan ini adalah kepedulian terhadap anak yatim. Tercatat hampir 102
siswa yatim di lingkungan sekolah tersebut menjadi prioritas utama dalam penyaluran santunan.
“Anak yatim menjadi prioritas utama. Namun, jika terdapat siswa lain yang dinilai membutuhkan bantuan berdasarkan rekomendasi wali kelas, maka mereka juga akan mendapatkan perhatian setelah santunan anak yatim terpenuhi,” tambah Imang.
Dengan pelaksanaan pesantren Ramadan yang berjalan tertib dan penuh makna, pihak sekolah berharap kegiatan ini mampu menanamkan nilai-nilai keagamaan sekaligus meningkatkan kepedulian sosial di kalangan siswa.
Tradisi positif ini diharapkan terus berlanjut sebagai bagian dari budaya pendidikan karakter di lingkungan sekolah. (SG.W-025/Awong)
